Jumat, 11 Februari 2011

Cintamu Semanis Gula - Gula dan Setenang Pagi

"Bila cinta adalah kederhanaan, kesetiaan, kesabaran, keteguhan, pertobatan dan rela berkorban, maka dialah cinta itu sendiri."'

Rambutnya masih hitam legam kendati usianya hampir 6 dekade. Papa masih beringas. Gen cekingnya diwariskan  kepadaku dan Bung. Pun rambut lurusnya. Struktur gigi yang parah milikku dan Bung, dapat dipastikan oleh - oleh darinya. Gigi  atas nya palsu semua. Dengan bangga kadang dilepas deretan gigi palsu itu dan mulai pamer, membadut.

Bila subuh tiba, Papa bangun paling pagi untuk jajan 'Ketan Kirip' ( Ketan dgn taburan kacang ). Kadang Papa heboh mengajak Mama dgn dalih jogging, tapi kalau dia tak menemukan kawan, Papa akan berangkat sendiri. Pulang dgn 3  bungkus ketan, satu bungkus yg tidak pakai kacang buat Mama. Selanjutnya Papa akan turun ke pawon (dapur dgn kompor tungku),  menyiapkan api kemudian bablas ke kandang. Ngopeni Si Pon, Paing dan Putih (sapi kami).
Jam setengah tujuh, Bapak sudah stand by di atas Honda Astrea Prima, bersih wangi, jauh dari bau sapi. Kemeja rapi, celana  kain dengan sweater atau kadang jaket birunya yg kebesaran. Papa akan menghantar mama ngajar dan aku menunggu giliran, memanfaatkan waktu sambil becermin.

Selanjutnya, akan mudah menemukan Papa di sawah belakang stadion, berteriak - teriak menakuti maling - maling kecil bersayap  yg datang keroyokan. Sampai kira - kira usai bedug lohor, Papa akan kembali berubah bak tuxedo bertopeng dan aku tinggal  menunggu giliran dijemput. Kelar wira wiri, Papa akan kembali nyawah. Kalau tidak ada anak les di  rumah, mama akan ikut menemaninya tanpa aku. Kata Mama, "Wes gak usah melok. Ngko malah disuiti wong - wong." Yg intinya, beliau tidak mau anak  gadis satu satunya ini diganggui bujang sawahan.
Sampai sore menggelundungkan matahari dgn pasti ke Barat langit, Papa  pulang dengan teriakan - teriakan riangnya dari luar Rumah.. "Buk..Buk.." ( I really miss it :') )
Biasanya teh atau susu sudah siap kebal kebul di atas meja makan. Tapi kadang tidak selalu seberuntung itu. Paling parah,  Papa akan menemukan Mama dan saya sedang  bergulung - gulung dalam selimut. Papa akan menyiapkan teh sendiri, mulai dari merebus air sampai seduh menyeduh. Papa tidak nggerundel, tidak menggerutu. Kata - kata yg keluar hanya, "Tres, mau teh?".. :')

Aku saja, anak gadis yg dijaganya baik - baik dari pejaka sawahan ini jarang buatkan beliau teh. Terakhir  SMA kelas 3 kemarin, saat kumat melankolisku.

Buatku, Papa adalah seorang jenius yg kepaling (kehilangan arah). Papa hidup di keluarga yg tidak memahami pentingnya edukasi. Kakak kakaknya yg Bolang kadang mengajaknya bolos atau plesir  ke luar kota. Gurunya adalah hidup. Tapi, toh dunia tetap butuh selembar  Ijazah. Lamar kanan kiri dengan ijazah SMP dan sertifikat kursus  Akutansi setara SMA, Papa diterima di perusahaan asuransi.  Pernah aku mengintip ijazah SMPnya, bahasa inggris 7, ilmu bumi dan matematika 8. Itu pakai standard tahun 60-an loh. Bedakan dgn sekarang, yg tinggal taro bunder pake buntut jadilah >>"9"..

Siang ini, tiba - tiba teringat Papa.
 Waktu itu masih kelas 6 SD. Papa memboncengku dengan sepeda jengki pinjaman dari Mbah Surik. Papa mengajakkku ke  rumah Pak Ran yang jaraknya sekitar 15 Km dari rumah. Boncengan besi sepeda jengki itu benar - benar jauh dari nyaman, tapi rasanya kok  menyenangkan ya? Bahkan sekarang masih terasa menyenang hanya dengan mengingatnya. Angin sawah di kiri kanan jalan itu masih terasa, apa ya?  Membuai, mungkin kata itu yg tepat. Membuat saya serasa gula kapas yang ringan, mendendangkan lagu Gapangan (lagu  Banyuwangian) sepanjang jalan. Jalannya rata, tubuhku pun tak berat. Entahlah, rasanya hari itu tak ingin turun dari  sepeda, walaupun bokong sudah bertato garis garis cap boncengan besi jengki.

Aku kelas 3 SMP waktu, Papa punya motor Honda 800. Wajahnya girang, bangga dengan mainan barunya. Aku diajarinya naik motor,  kadang dimarahi karena telat ngerem. Walaupun bisa bawa motor sendiri, saya masih betah diantar jemput Papa. Papa setia menunggu di bawah pohon samping gerbang  belakang SMA 1 Glagah. Bajunya necis, kemeja lengan panjang dan celana kain. Rapi. Tak mau kalah dengan pejabat - pejabat dalam mobil  ber-AC yang bajunya modol - modol dan plat nomernya warna merah tapi dipakai jemput anaknya --" ..
Aku yg aktifis OSIS ini kadang  pulang telat, tapi aku selalu menemukannya masih di tempat yang sama. Papa tidak punya HP untuk menerorku bila telat pulang, Papa tidak akan melakukannya. Papa selalu menyambutku dengan senyum saat aku hanya mampu memberikan wajah bersalah ku. Senyumnya paling riang yang aku kenal.

Sampai sekarang, posisinya itu belum terganti. Anaknya ini terlalu tergila - gila dan sibuk mencari cerminannya, walau  kelihatannya sia - sia. Hanya menunda waktu sampai akhirnya Papa harus melepas genggaman tanganku dan memindahtangankannya pada tangan lain di depan altar. Belum ada yg sanggup membuatku mencintai melebihi Papa. Rasa - rasanya aku belum sanggup memikirkannya.

Kadang aku ingin Papa menjemput dipintu kampus.. Tersenyum, belum tergantikan.

Beliau yang kupanggil dengan, Papa. Johan Odo Londong.
Pria dengan senyuman paling riang yang pernah saya kenal. The sweetest man i ever known. Papa tidak pernah mengatakan, "Papa sayang kamu"...tapi dari semua yang kudapatkan sampai detik ini aku yakin, hidup telah membisikkan ribuan bahkan jutaan "Papa sayang kamu" dalam hatiku.

Untuk Papaku, Valentine-ku, "Aku masih merasa betah dalam dekapanmu dengan cintamu yang semanis gula - gula dan setenang pagi, mengamankanku dari badai paling ganas sekalipun." Tapi ...

_Valentine's Day, 14th of  February 2011_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar